Pelatihan Prana Shakti Dharana

PRANA SHAKTI ( PS )

Prana Shakti adalah teknik energi esoteris yang berakar dari tradisi mistik Tibet Kuno dan merupakan bagian dari meditasi Shamballa, yaitu suatu teknik meditasi untuk memasuki ruang Kesadaran Murni yang dikenal dengan sebutan Shamballa, Shangri-la atau titik Samadhi.
Prana Shakti merupakan teknik energi tingkat tinggi, oleh karena itu mereka yang mempelajari teknik ini akan memiliki keselarasan terhadap seluruh energi alam semesta dan memiliki akses tanpa batas keseluruh alam semesta, apapun jenis vibrasi energi maupun fungsinya.
Prana Shakti adalah “kunci pembuka ilmu”. Seorang praktisi Prana Shakti adalah Grandmaster dari seluruh tradisi energi, karena dapat melakukan inisiasi atau penyelarasan terhadap diri sendiri dan juga terhadap orang lain atas seluruh tradisi energi yang pernah ada dimuka bumi ini.
Prana Shakti bersifat universal, oleh karena itu dapat dipelajari oleh siapapun juga, dan tidak mengacu kepada agama atau keyakinan tertentu.
Prana Shakti merupakan suatu bidang keilmuan yang paling tepat bagi mereka yang ingin memahami filosofi dasar dari keberadaan energi alam semesta.
Seluruh energi (Subtle Energy) di alam semesta ini pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu: Prana yang berorientasi ke Makrokosmos (Jagad Besar) & Shakti yang berorientasi ke Mikrokosmos (Jagad Kecil).
KONSEP PRANA SHAKTI
Prana Shakti dapat dipelajari oleh siapapun juga tanpa perlu latar belakang pengetahuan apapun.
Melalui suatu proses penyelarasan yang dikenal dengan istilah Abhiseka & Shaktipat, seorang Praktisi akan dibimbing oleh seorang Prana Shakti Master untuk memasuki kesadaran alam semesta, atau kesadaran Prana Shakti.
Setelah Praktisi memperoleh penyelarasan Prana Shakti, maka secara otomatis Praktisi akan memiliki kemampuan untuk mengakses seluruh energi yang terdapat di alam semesta ini, baik yang termasuk dalam kelompok Prana maupun yang termasuk dalam kelompok Shakti. Berikut ini kemampuan-kemampuan dari seorang Prana Shakti Dharana :
  • Energi Tradisi : Kemampuan channeling atas energi ini, yang biasanya diperoleh setelah seseorang memperoleh inisiasi berdasarkan tradisi tertentu. Misal : Reiki, Seichim, Drisana, Kundalini, Tenaga Dalam, Ilmu-ilmu Hikmah, dll.
  • Energi Fungsional : Kemampuan channeling untuk energi dengan komposisi dan fungsi yang khusus. Misal : energi penyembuh stroke, energi penyembuh migrain, dsb.
  • Energi Spiritual Being (Ascended Master & Angel) : Kemampuan channeling energi yang sebenarnya sudah termasuk dalam salah satu kategori di atas, akan tetapi di kemudian hari penemu komposisi energi ini lebih dikenal dibandingkan dengan energi itu sendiri. Misal : energi Kanjeng Sunan Kalijogo, energi St. Germain, energi El Morya,  dsb.
Seorang Prana Shakti Dharana dapat memberikan Attunement, Inisiasi, Pembangkitan, atau Penyelarasan atas kemampuan keilmuan energi di atas kepada orang lain

MATERI PELATIHAN

  • Teori Dasar Prana Shakti
  • Abhiseka dan Shaktipat Prana Shakti Dharana
  • Teknik Dasar Channeling Energi
  • Teknik Self-Initiation (inisiasi ke diri sendiri)
  • Aplikasi Energi untuk Penyembuhan (Healing)
  • Simulasi Mengakses Energi (pematahan benda keras dengan koran & kepala, menjatuhkan bohlam dari ketinggian ± 3 meter tanpa pecah bahkan memecahkan keramik)
  • Meditasi Prana dan Shakti
  • Teknik Inisiasi Tradisi Energi kepada Orang Lain
KETERANGAN :
  • Peserta diharapkan mengenakan celana training hitam (celana hitam longgar)
  • Lama pelatihan ± 6 jam
  • Investasi : Rp. 1.000.000 / peserta
  • Fasilitas  : Coffee Break, Makan Siang, Training Kit, Kaos, CD, Sertifikat
Jl. Kalisari No. 1 Ps. Rebo Jakarta Timur 13790
Telp. (021) 9662 9449 / 0812 1982 4660

Pengenalan Quanta

Kosong adalah isi dan isi adalah Kosong


quantaPrase ini dimana memiliki suatu keunikan dalam pengartiannya. Jika kita telaah lebih dalam, Isi adalah kosong dan Kosong adalah isi memiliki arti yang cukup dalam dan mengandung makna kebenaran sejati di dunia ini.

Yang Isi itu Kosong. semua benda nyata sebenarnya kosong. seperti dalam fisika kita mengetahui suatu benda terdiri dari banyak molekul, molekul dibentuk oleh atom, atom terdiri dari partikel-partikel dan partikel merupakan gabungan dari energi quanta, dimana energi quanta terdiri dari Energi – energi fibrasi(getaran). Dari Benda sampai partikel, kita masi bisa melihatnya. tetapi Quanta dan energi Fibrasi kita susah untuk melihatnya atau tidak terlihat atau kosong. Jika kita melihat mobil, mobil kita pecah jadilah molekul besi, molekul besi kita pecah lagi jadilah atom, atom kita pecah lagi, jadilah partikel, dan jika partikel kita pecah lagi jadilah Quanta, disini bisa membuktikan bahwa mobil tersebut hanyalah benda kosong jika kita lihat kebenaranya.

Dari penjelasan tadi, Semua hal di dunia ini sebenarnya terdiri dari energi Fibrasi dan Energi Quanta yang kosong. Semua hanyalah benda tidak nyata, alias ilusi. Karena ketidak nyataan itu, semua hal di dunia ini tidaklah abadi. Karena merupakan benda tidak nyata, semua hal pun akan kembali menjadi tidak nyata kembali.

Dari penjelasan tadi, Semua hal di dunia ini sebenarnya terdiri dari energi Fibrasi dan Energi Quanta yang kosong. Semua hanyalah benda tidak nyata, alias ilusi. Karena ketidak nyataan itu, semua hal di dunia ini tidaklah abadi. Karena merupakan benda tidak nyata, semua hal pun akan kembali menjadi tidak nyata kembali.
osong adalah isi, banyak arti di prase ini, misalnya disemua hal yang kosong sebenarnya berisi, berisi energi Quanta. bisa kita mencontohkan, di balon yang kita tiup. Kenapa balon bisa menggelembung jika kita tiup? karena kita memasukkan udara, tapi apa kita bisa melihat udara? tidak kan? disana bisa kita lihat kalo yang kita masukkan adalah hal yang kosong ke dalam balon itu. Tapi balon itu menggelembung seolah ada benda yang nyata kita masukkan. bukan begitu?

Kosong adalah isi, semua yang kosong adalah cikal bakal suatu yang isi. Percaya tidak percaya, kita semua berasal dari kekosongan, berasal dari energi Fibrasi dan Quanta. Percaya atau tidak, rumah kita atau mobil kita semua berasal dari kekosongan, berawal dari Ide. Ide merupakan hal yang kosong, bukanlah benda nyata, tetapi benda khayal. setelah itu dari Ide untuk membuat rumah kita membeli bahan bangunan. dimana tidak kita sadari bahan bangunan itu pun berawal dari Ide dan semen misalnya, itu pun berasal dari Energi kuanta yang di bentuk, menjadi partikel, setelah itu digabungkan menjadi atom, setelah digabungkan menjadi molekul senyawa, setelah itu di bentuk menjadi semen. Semua Hal Berasal dari Ketiadaan. Ide sendiri, jika kita telaah dari Otak, Ide merupakan buah pikiran dimana pikiran adalah bahasa otak, dan merupakan benda yang dibentuk otak. Jadi, mungkin membingungkan, iya, karena memang tidak harus dipikirkan tetapi dirasakan. otak tidak akan bisa mencapai hal itu dengan logika yang rendah, tetapi dengan perasaan itu akan kita rasakan.

Dari semua penjelasan diatas kita bisa simpulkan. Semua hal didunia ini adalah semu, semua hal di dunia ini adalah ketiadaan. Tidak ada yang nyata. Dunia dipenuhi dengan energi Quanta dan energi Fibrasi. Seperti nasehat ayah saya kepada saya. ” Dunia dipenuhi oleh energi Quanta yang selalu siap kapan saja kamu bentuk, samakan gelombangmu dengannya, dan bentuklah dia sesuka hatimua, semua hal akan tercapai”. Dari sana saya menyadari, energi itu memang gampang di bentuk, asal kita percayakan semua padanya.
Terim kasih
Smoga bermanfaat ……

KEBANGKITAN & PENCERAHAN

Kesempurnaan seluruh penciptaan ini ada pada diri manusia. Dan tujuan ini hanya dapat dipenuhi jika manusia telah menyadarkan bagian dari dirinya yang mewakili Tuhannya, yaitu Tuhan itu sendiri.”

– Hazrat Inayat Khan


Bayangkan sejenak bahwa Anda seorang pendatang dari tempat yang sangat jauh di Alam Semesta, yang baru saja mendarat di bumi. Jika Anda membangkitkan kembali kenangan akan dunia yang Anda tinggalkan, Anda akan memiliki pengetahuan langka yang tidak dimiliki oleh kebanyakan penduduk planet kecil ini: perspektif yang luas dan pandangan menyeluruh mengenai misteri eksistensi. Sesungguhnya, Anda adalah bagian dari Alam Semesta – bukan hanya dunia fisik, melainkan seluruh tingkatan dan lingkup realitas. Mungkin Anda memutuskan untuk datang ke bumi karena Anda ingin merasakan lingkungannya yang unik. Atau, mungkin motivasi Anda adalah membuat tanda, atau meningkatkan keadaan umat manusia. Namun, untuk dapat menyelesaikan tugas ini, Anda perlu memiliki tubuh yang tercipta dari tubuh kedua orangtua Anda dan para leluhur Anda; Anda memilih mereka untuk tujuan inkarnasi. Sejalan dengan berlalunya waktu, Anda semakin  pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan fisik dan sosial Anda – Anda bekerja keras, jatuh cinta, menjalin persahabatan, membangun keluarga dan berkelana ke seluruh dunia. Lambat laun, kenangan akan rumah Anda yang sejati mulai menghilang dari kesadaran Anda, hingga akhirnya lenyap sama sekali.

Untuk sesaat, kehidupan Anda di bumi berjalan lancar; Anda merasa bahagia. Lalu Anda menghadapi krisis besar, goncangan pribadi, dan kehidupan tampaknya tidak lagi begitu pasti. Anda mulai merasa gelisah dan cemas. Keadaan hidup Anda membuat Anda frustasi, dan Anda merindukan kebebasan. Tergerak oleh nostalgia akan sesuatu yang bahkan tidak Anda ketahui apa namanya, Anda mulai memandangi bintang-bintang. Anda juga mulai merasakan kedekatan dengan pepohonan, kupu-kupu, matahari, hewan dan burung. Di bawah bentangan langit yang luas dan di tengah kelembutan alam, Anda menemukan kembali sesuatu dari diri Anda yang telah terlupakan. Dengan diliputi perasaan takjub dan kekaguman, Anda mulai menjalin dialog di dalam diri sendiri mengenai hakikat realitas dan mempertanyakan sumber dari seluruh keindahan, penderitaan dan misteri penciptaan. Sesuatu yang sulit dipercaya tampaknya ada di balik permukaan dari segala hal – namun jawabannya tidak bisa Anda peroleh, luput dari jangkauan realisasi Anda.

Lalu secara tiba-tiba, setelah bertahun-tahun mencari, semua kenangan mengenai eksistensi Anda sebelumnya kembali mendatangi Anda dalam sekilas kebangkitan. Seperti menemukan kembali benda bersejarah yang sangat berharga di balik lapisan debu tebal, Anda menemukan kembali diri Anda yang sejati, jati diri Anda yang sesungguhnya, yang telah terkubur dan terlupakan di kedalaman alam bawah sadar anda. Sekali lagi, Anda dapat melihat melalui perspektif yang terbentang luas dari diri kosmik ini, dan bukannya melalui sudut sempit jati diri Anda di bumi. Seakan-akan selubung dibukakan di depan mata anda; Anda memiliki kecerdasan bagaikan sinar-X yang dapat menembus kebenaran yang tersembunyi oleh tabir penciptaan – penyingkapan dari kemuliaan Alam Semesta – Wujud yang Satu yang kita sebut Tuhan. Mukjizat itu adalah ketika Anda terjaga, maka, demikian pula Alam Semesta. Dari tarian atom dan koreografi bimasakti hingga merekahnya sekuntum bunga dan perjuangan untuk meraih penghargaan diri dari orang-orang yang telah dihancurkan oleh kehidupan, seluruh kosmos menggemakan dengan jelas seruan itu, “Bangkitlah!” Dan meskipun Anda mendapati bahwa Anda tetap memiliki tubuh, kepribadian, hubungan dan tanggung jawab yang sama seperti sebelumnya, pengalaman Anda menghadapi situasi ini telah berubah secara dramatis; kesadaran Anda telah menjadi lensa yang melaluinya Tuhan memandang dunia fisik; Anda telah menjadi “mata yang melaluinya Tuhan melihat.” Penglihatan Anda adalah penglihatan Ilahi.

Dalam kisah perumpamaan ini terkandung esensi tasawuf – kisah tentang turunnya setiap jiwa ke dalam eksistensi, pengalamannya dalam penderitaan yang diakibatkan oleh perpisahan dari keberadaannya yang sejati, dan perjalanan kembali serta kesadarannya kembali pada hakikat Ilahiahnya. Sebab sejak jiwa mendapatkan bentuk fisiknya, kenangan akan lingkungan samawi tempat dia berasal menjadi kabur; kita hanya mengingat hal-hal yang terjadi pada diri kita sejak kita dilahirkan. Tetapi pengetahuan yang hilang mengenai Alam Semesta tetap tersimpan di alam bawah sadar kita. Seperti pakar arkeologi yang mengorek-ngorek melalui berlapis-lapis batuan, kita dapat menemukan kembali pengetahuan itu dengan memperdalam dan memperluas kesadaran kita melalui meditasi, salat dan pemujaan. Kita dapat merasakan bagiamana keadaan kita sebelum lahir ketika kita melihat cahaya di mata seorang bayi dan berpikir, seperti sering saya alami: “Aku pernah melihat ini sebelumnya. Aku ingat itu.”

Sesungguhnya, rahasia tasawuf adalah beralih dari sudut pandang pribadi kita yang sempit ke sudut pandang Ilahi. Secara sederhana, keberadaan kita terdiri dari dua kutub kesadaran: diri individual yang pribadi sifatnya, dan diri Ilahi yang lebih mulia. Di dalam kutub dimensi kesadaran pribadi itulah kita mengalami kendala dan batasan. Sementara kita mengira bahwa keadaan kita merupakan penyebab frustasi ini, penyebab yang sesungguhnya adalah karena kita tidak sadar akan diri kita yang lebih mulia. Jadi, tujuan meditasi adalah menghubungkan kembali diri pribadi kita dengan dimensi trans-personal dari keberadaan kita ini.

Cara lain untuk membayangkan proses ini adalah memikirkan tentang kesadaran seakan-akan itu sebuah pendulum. Di satu ujungnya adalah dimensi keberadaan kita yang fana dan akan lenyap, atau terus-menerus berubah dan berganti melalui proses evolusi. Di ujung yang lain pendulum ini adalah bagian kesadaran yang tetap hidup dan tidak berubah. Jadi seluruh keberadaan kita dapat dikatakan sebagai kesinambungan dalam perubahan – seperti halnya air yang mengalir di bawah jembatan tidak pernah sama, namun tetap saja itu sungai yang sama. Masing-masing dari kedua kutub ini menciptakan cara kesadaran yang khas.

Para sufi membedakan antara pengetahuan perolehan dan pengetahuan wahyu. Pengetahuan perolehan adalah informasi yang kita kumpulkan sepanjang pengalaman hidup kita sehari-hari. Tetapi ketika kita mulai memandang hidup melalui sudut pandang yang sama sekali bertentangan – melihat melalui mata Tuhan – maka kita dapat memperoleh pengetahuan bawaan, intuitif, dan wahyu yang selalu ada, tidak peduli bagaimana pun keadaan manusia itu. Meditasi adalah ilmu untuk bergerak maju dan mundur di antara kedua perspektif ini – perspektif manusia dan perspektif Ilahi – dengan menurunkan tingkatan yang satu untuk meninggikan tingkatan yang lain. Pada akhirnya, kita belajar untuk memperkirakan makna dari perpaduan antara tingkatan-tingkatan yang berbeda ini. Keadaan inilah yang saya namakan kebangkitan jiwa bukan hanya kembali pada keadaan sejatinya, melainkan bagaimana jiwa berkembang melalui perjalanannya di atas bumi ini: maka apa yang dapat dirangkumnya dari pengalaman-pengalamannya; sifat-sifat dasar apa yang telah terungkap dari berbagai kesulitan besar yang berhasil dihadapinya; dan cara unik di mana penyingkapan jiwa memberikan sumbangan pada evolusi Alam Semesta itu sendiri.

Mungkin ada yang bertanya-tanya apa relevansi dari kebenaran-kebenaran metafisika semacam itu dengan dunia modern – terutama dunia yang tampaknya bergerak menjauhi nilai-nilai yang diyakini para ahli tasawuf di masa lalu dan mendekati masa depan yang semakin impersonal, kompleks, dan sarat teknologi. Tetapi tampaknya waktu di mana kita berada sekarang ini semakin menekankan secara dramatis perlunya membedakan antara apa yang memiliki nilai kekal dan apa yang hanya bernilai sementara; apa yang dapat membawa jiwa semakin jauh dari Tuhan, dan apa yang dapat membawanya semakin dekat. Seluruh Kosmos bergerak bagaikan pendulum; masa lalu dan masa depan, yang sementara dan yang kekal, manusia dan Tuhan. Di luar dialog maju-mundur yang terus-menerus antara kedua kutub inilah masa depan tercipta. Saya percaya bahwa masa depan bukan hanya sesuatu yang menanti kita; ia adalah sesuatu yang tercipta melalui penyortiran masa lalu untuk dimasukkan ke masa depan. Masa depan adalah kemajuan yang terus berlangsung yang terjadi pada setiap era dan yang terjadi melalui peran serta inovatif, imajinatif, dan dilakukan dengan sadar oleh setiap individu. Inilah yang saya namakan evolusi spiritual.

Seperti yang dibuktikan sejarah, proses ini dapat menimbulkan perlawanan dan kesulitan sangat besar. Bahwa masa depan adalah sesuatu yang kita ciptakan, bukan kita terima begitu saja secara pasif, membuat banyak orang merasa gentar. Meninggalkan nilai-nilai masa lalu yang nyaman namun sudah usang dirasakan seperti terjun bebas ke jurang pergolakan yang menyeramkan. Tetapi kembali pada kenyamanan masa lalu, dan bukannya bergerak maju menuju masa depan, berarti kehilangan kesempatan untuk menyaksikan pembukaan kosmik yang langka yang terjadi dalam sekejap waktu di antara masa lalu dan masa depan, di mana kita mustahil memulai suatu babak baru dalam kisah evolusi umat manusia. “Tarikan masa depan,” tulis Leonhard Euler, “lebih kuat daripada dorongan masa lalu.” Tetapi apa tepatnya “masa depan” itu? Menurut pandangan dunia Sufi, masa depan berarti hal yang berbeda untuk orang yang berbeda. Bagi sebagian orang, masa depan sudah ditetapkan – suatu nasib yang telah dipahat di atas batu yang harus mereka terima secara pasif dengan kepatuhan buta. Yang lain menganggap masa depan sebagai sesuatu yang dapat dibentuk sesuai dengan kehendak masing-masing individu. Menurut pendapat saya, masa depan adalah hasil dari keduanya – dan sesuatu yang jauh lebih dari itu.

Para Sufi telah mengembangkan metafisika mengenai waktu dan nasib yang sangat berbeda dari persepsi waktu yang biasa dan linear. Misalnya, mereka membedakan antara saat ketika masa lalu bertumpang tindih dengan masa depan yang kemudian membentuknya, dan saat terjadinya peristiwa secara simultan ketika anak panah yang bergerak ke depan terpotong oleh dimensi transenden – seperti masuknya energi baru yang tak tercipta ke dalam keadaan yang telah pasti dan stagnan. Menggunakan kiasan ahli fisika David Bohm mengenai laut dan gelombang, “dinamika waktu” ini dapat dijelaskan begini: bahwa gelombang di laut naik, lalu jatuh kembali ke kedalaman samudera; namun setiap gelombang baru merupakan ungkapan yang baru pula dari laut, meskipun masih disisipi dengan unsur-unsur dari gelombang sebelumnya.

Di sini kita melihat berpadunya dua kekuatan: kausalitas dan terus bermunculannya citra-citra dan bentuk-bentuk baru yang kreatif di Alam Semesta – seperti lahirnya sebuah bintang. Itu belum diterapkan. Misalnya, apa tepatnya yang kita maksud dengan konsep mengenai “saat” atau “sekarang”? Jika Anda sedang mendengarkan musik, nada yang baru saja Anda dengarkan terus bergema di telinga Anda, meskipun Anda sudah mulai masuk ke nada sesudahnya. Dalam “saat” ini tidak ada batasan antara masa lalu atau masa depan. Jadi para Sufi tidak memandang individu sebagai korban nasib yang telah ditetapkan dan tidak dapat diubah, atau sebagai penentu nasib diri mereka sendiri. Sebaliknya, mereka mempertimbangkan adanya akal yang lebih tinggi yang, melalui suatu proses evolusi, jatuh-bangun, dan inovatif, tertanam di dalam diri manusia untuk secara kreatif membentuk dan membentuk-kembali kehidupan dalam serangkaian citra, pola, dan paradigma yang tak habis-habisnya.

Kekuatan transenden inilah yang oleh sebagian orang dinamakan Tuhan dan yang saya namakan juga “Alam Semesta,” yang mungkin merupakan kata yang akan digunakan pada milenium ini. Seperti tarikan kosmik yang mengerahkan kekuatannya sendiri atas manusia, Alam Semesta secara terus-menerus menantang kita untuk membebaskan diri dari pengkondisian masa lalu untuk berubah dan berkembang. Sebagaimana perubahan dan penyesuaian terus-menerus yang terjadi di tengah alam, yang telah berlangsung selama ribuan tahun – yang menghasilkan hutan hujan bagaikan hamparan zamrud, hewan-hewan eksotik, dan makhluk cerdas yang kompleks yag dinamakan manusia – kekuatan evolusi ini berfungsi layaknya magnet spiritual untuk menarik manusia keluar dari batasan-batasannya menuju dimensi-dimensi kesadaran dan tingkatan-tingkatan persepsi yang lebih jauh. Bahkan, tenaga penggerak untuk membentangkan celah dari masa lalu ke masa depan merupakan bagian dari proses yang telah berlangsung selama miliaran tahun dan masih tetap berlangsung hingga sekarang, yang dengan itu Alam Semesta terus membentuk debu-bintang menjadi manusia. Perencanaan alam Semesta dipengaruhi oleh peran serta manusia yang bebas dan kreatif; jadi tujuan manusia adalah menyadari pengaruh besar mereka pada penyingkapan penciptaan. Jika perubahan kuantum dalam kesadaran semacam itu benar-benar terjadi, itu akan mewakili kemenangan heroik atas determinisme – bukan atas alam, melainkan atas batasan-batasan pikiran kita sendiri yang mencegah kita untuk bekerja secara selaras dengan Alam Semesta. Evolusi kesadaran merupakan perbatasan akhir manusia, kebebasan tertinggi yang dicari  manusia sejak awal masa. Jadi, tantangan itu tampaknya merupakan tantangan untuk mengatasi rasa takut akan wilayah tak dikenal yang ada di depan, dan menemukan keberanian serta optimisme  untuk memerangi dimensi spiritual yang tersembunyi dalam hakikat kita. Sebab sifat intuitif dan menyerupai radar dan indera transenden inilah yang akan membantu membimbing kita melalui kegelapan wilayah yang tidak kita kenal – memerangi pikiran kita dan menyadarkan hati kita akan kegemilangan dari suatu kesadaran baru.

Mereka yang berperan serta dalam evolusi Alam Semesta”: itulah frase yang bergema dengan penuh kemungkinan dan potensi. Sebab ini berarti menyadari bahwa masa depan bukan hanya menanti kejadian; sebaliknya, masa depan berarti mengambil bentuk di sini dan pada saat ini dalam sikap yang kita pegang, pilihan yang kita ambil, dan nilai yang kita hormati. Itu berarti menyadari sepenuhnya fakta bahwa manusialah yang menentukan kesempatan luar biasa dan sangat berharga untuk membentuk masa depan planet ini. Salah satu caranya adalah melalui kreativitas yang kita miliki berkat wahyu Ilahi – membayangkan dan meramalkan sebuah dunia yang berbeda dari dunia yang telah hilang sebelumnya. Ini bukan berarti meninggalkan semua yang telah dicapai manusia sampai saat ini. Sebaliknya, itu berarti dengan cermat menyaring masa lalu – melestarikan warisan dari peradaban-peradaban agung di zaman dahulu, dan sekaligus meningkatkan struktur sosial kita untuk menghindari jejak penderitaan akibat kejahatan yang menimpa korban-korban penindasan.

Ketegangan yang berlangsung antara kekuatan masa lalu dan tarikan masa depan dapat kita lihat dengan lebih jelas di zaman kita sekarang daripada zaman-zaman sebelumnya. Bukti adanya impuls positif yang bergerak ke depan menuju kebaikan, misalnya, tampak di mana-mana. Di bidang teknologi, perkembangan komunikasi dapat membantu membawa penduduk planet ini menjalin persatuan yang saling bergantung. Di bidang sosial, model-model pemecahan konflik yang baru terus diupayakan untuk membantu mencegah kekerasan, menekankan pentingnya kesadaran dalam mengatasi pertikaian pribadi akibat dorongan emosi. Di bidang psikologi, para terapis semakin banyak mempertimbangkan keadaan spiritual pasien mereka – kebutuhan akan sesuatu yang suci sebagai landasan penghargaan-diri, serta pengakuan akan adanya “anak tak berdosa” di dalam inti jiwa yang tidak tercemar oleh lingkungan sekelilingnya. Dan dibidang politik, sikap memaafkan dan rekonsiliasi telah memperkenalkan nada baru ke dalam kesukaan manusia untuk berbantah dalam perdebatan yang bertele-tele, mengoleskan salep penyembuh pada luka yang telah berabad-abad menganga, dan menawarkan harapan akan perdamaian.

Namun, kemajuan-kemajuan ini terus dibayangi oleh penyimpangan dalam nilai-nilai moral, serta kapasitas kearifan yang sangat kerdil. Kekurangan ini tercermin dalam wujud penyakit-penyakit sosial yang semakin bertambah; ledakan jumlah penduduk yang belum pernah terjadi sebelumnya di tengah menipisnya sumber-sumber alam yang berharga di bumi, hantu menakutkan berupa lenyapnya lahan dan spesies tanaman serta hewan, pertikaian agama dan etnis yang terus berlanjut, dan meluasnya kemiskinan serta kekerasan. Jadi, meskipun merupakan bagian dari perjuangan manusia untuk mengenyahkan kegelapan akibat penderitaan manusia melalui paradigma visioner dan pemecahan masalah, ia terus ditarik ke belakang ke masa lalu oleh kekuatan yang menentang etika spiritual global. Tampaknya, tugas yang menanti adalah menemukan cara untuk mengubah persepsi-persepsi yang terkungkung dalam kesempitan pikiran dan kepicikan menjadi pandangan yang lebih luas dan inklusif, yang harus dicetuskan di zaman kita sekarang ini.

Fisika Modern

Di masa lalu ada seorang guru bijak yang selalu menyelenggarakan kuliahnya di bawah sebuah pohon yang tinggi dan besar menjulang ke langit. Dan suatu hari ketika kelas sepi, anak laki-laki dari guru itu bertanya pada ayahnya dari manakah langit, bumi, dan seluruh isinya berasal. Kemudian sang ayah memintanya mengambil satu buah yang sudah kering dan banyak terserak di bawah pohon besar itu, memintanya untuk membelahnya dan melihat isinya. Ketika anak itu menemukan sebuah biji kering di dalamnya, sang ayah memintanya untuk terus membelahnya hingga ia akhirnya menemukan bahwa bijinitu ternyata kosong, hampa, tidak berisi apa-apa. Sang ayah kemudian menjelaskan kepada anaknya bahwa seperti pohon raksasa yang sudah berusia ratusan tahun itu, segala sesuatu yang ada di alam semesta ini bermula dari sesuatu yang tidak ada, kosong, dan hampa.

“Semua yang tampak berasal dari sesuatu yang tidak tanpak. Semua yang bisa dilihat berawal dari sesuatu yang tidak bisa dilihat.”

Di dalam dunia ilmu fisika secara umum terdapat dua pandangan yaitu fisika klasik dan fisika kuantum. Ilmu fisika klasik atau sering disebut “Newtonian” yang memulai observasinya dari benda solid yang “bisa dilihat” sehari-hari, seperti jatuhnya buah apel hingga pergerakan planet. Kepastian hukum mekanisme “bola biliar” yang diadopsi ke dalam cara kerja mesin industri yang sudah berlaku selama beberapa ratus tahun ini berhasil mengantarkan Revolusi Industri. Namun, di akhir abad 19 ketika para ilmuwan mulai membuat peralatan untuk menginvestigasi benda-benda atau sangat kecil, mereka menemukan sesuatu yang membingungkan dimana ilmu fisika Newton tidak lagi mampu menjelaskan atau memprediksikan apa yang mereka temukan di laboratorium. Sejak itu, hingga kurun waktu seratus tahun ini, suatu penjelasan ilmiah yang baru lahir untuk menjelaskan tingkah laku benda atom yang sangat kecil dan “tidak bisa dilihat”itu. Dan penelitian ilmiah tersebut membuka tabir adanya kenyataan dunia yang benar-benar baru dikenal sebagai “mekanika kuantum, fisika kuantum, atau teori kuantum.” Ilmu fisika baru ini tidak hadir untuk menggeser ilmu fisika Newton yang masih berjalan baik untuk menjelaskan benda-benda yang cukup besar dan “terlihat”. Ilmu fisika kuantum justru sengaja dimaksudkan untuk mengeksplorasi wilayah-wilayah kebendaan yang sangat kecil dan tidak mampu lagi digapai oleh “mata” fisika Newton yaitu dunia sub-atomic yang begitu kecil.

Para ahli fisika kuantum (quantum physics), yang paling popular diantaranya adalah Albert Einstein dan beberapa nama lain seperti Richard Feynman, Werner Heisenberg, Niels Bohr, David Bohm, Erwin Schrodinger, hingga Fred Alan Wolf, Amit Goswani, David Albert, dan banyak lagi. Para ilmuwan kuantum ini meneliti apa sebenarnya yang terjadi ketika sebuah benda dibelah terus-menerus hingga ke tingkat materi yang sangat kecil. Dan materi terkecil itu pun terus dibelah lagi dengan alat pemecah atom particle accelerator sampai tak terlihat hingga berubah menjadi energi yang terhalus. Dan selama bisa dilakukan, energi terhalus itu pun diusahakan untuk terus-menerus dibelah hingga akhirnya – seolah – lenyap menghilang.

Dari berbagai penelitian itu, ilmu fisika kuantum membawa berita baru seperti ini: bahwa di dunia energi terhalus yang “tak tampak” wujudnya berlaku hukum yang berbeda dengan dunia benda yang “tampak”. Yaitu hukum fisika kuantum yang unik dan agak “sulit dipercaya”, yang diantaranya:

  1. Di dunia kuantum sebenarnya tidak ada benda yang padat kecuali ruang hampa.
  2. Tingkah laku partikel yang berubah-ubah dari benda padat menjadi getaran vibrasi dan sebaliknya tergantung dari “niat” penelitinya.
  3. Berlakunya Hukum Ketidakpastian/Kesaling-tergantungan (uncertainty principle), hingga,.
  4. Hukum Non-Lokalitas yang menyatakan bahwa unsure terkecil dari semua benda itu sebenarnya ada disini dan di mana-mana sekaligus.

Lalu apa hubungannya semua hal itu dengan usaha kita untuk meraih sukses dan kebahagiaan? Sangat erat. Oleh karena untuk meraih kesuksesan lahir-batin dengan Teknologi Quantum Ikhlas kita akan menggunakan kekuatan pikiran dan perasaan yang merupakan “benda tak terlihat”, sehingga hukum fisika kuantum lah yang lebih pas untuk kita gunakan.

Seperti terigu yang menjadi bahan dasar semua jenis roti atau air yang menjadi bahan dasar semua jenis minuman. Ilmuwan fisika kuantum juga menjelaskan bahwa getaran-getaran energi terhalus yang dinamakan ‘quark, string, atau biasa disebut quanta’ yang “tak tampak” perwujudannya ternyata merupakan bahan baku dasar dari semua benda yang “tampak” wujudnya. Energi ‘quanta’ ini secara menyeluruh dan ‘built-in’ menyelimuti dan merasuki semua benda yang tampak maupun tak tampak. Quanta adalah “bahan baku” semua benda di alam semesta. Dan luar biasanya, ‘quanta’
bukanlah sebarang benda tetapi lebih merupakan vibrasi energi yang memiliki keecrdasan dan kesadaran hidup
Benda ->Molekul->Atom->Partikel-> Quanta->Energi Vibrasi
( Tampak / Fisika Newton ) (Tak Tampak/F.Kunatum)
Semua‘benda’ terbuat dari unsur quanta.

Benda padat merupakan kumpulan darimolekul. Sementara molekul itu berasal dari semua atom dan partikelnya. Dan partikel subatom yang sangat kecil berasal dari suatu energi alam vibrasiquanta. Benda padat, molekul, atom, dan partikel adalah “benda yang bisa dilihat”. Sementara quanta yang terdapat di alam energi adalah “vibrasi kuantum yang tak terlihat.” Kenyataan kuantum ini mengatakan: Anda bisa “mengatur” quanta suatu benda untuk mengubah benda itu dengan lebih cepat. Otomatis!

Segala sesuatu di seluruh semesta inimerupakan bagian dari energi quanta yang luar biasa cerdas ini. Semua orang, semua binatang, semua tumbuhan, semua bintang, semua planet, dan semuamikroorganisme, betapapun kecil ataupun besarnya terbuat dari energi ini. Semua benda yang anda lihat di sekitar anda seperti rumah, mobil, televisi, dan lain-lain, sebenarnya hanyalah merupakan susunan energi quanta yang tercipta oleh kerjanya (baca: keterbatasan) pikiran. Sebab, jika semua benda itu diinvestigasi dari dekat – dengan mikroskop nuklir misalnya – maka tampak jelas bahwa mereka tidaklah padat sama sekali, melainkan terdiri dari rongga-rongga yang berisigetaran energi quanta yang bergerak sedemikian cepatnya sehingga “terlihat” padat oleh indra penglihatan kita dan “terasa” padat oleh indra peraba kita.

Di level quanta semua benda sebenarnyamenyatu dan tidak terpisah. Seperti terpisahnya udara di ruang tamu anda dengan udara di ruang makan atau kamar tidur anda. Masing-masing ruang “terlihat” berbeda tetapi sebenarnya terbuat dari udara yang sama. Seperti film yangtampak bergerak di layar sinema padahal sebenarnya merupakan kumpulan gambar tak bergerak yang dipaparkan secara cepat (24frame/detik) sehingga terlihat hidup. Inilah yang disebut ilusi atau kefanaan.

Seperti kata Einstein ini:
“Semua kenyataan yang terlihat sesungguhnya hanyalah ilusi, sebuah tipuan matayang sangat kuat dan sulit dihapuskan.”

 

samuderahati.8forum.net